Aku pernah kecewa dan aku pernah terluka. Tapi di sebalik itu semua, aku yakin dan percaya itu adalah cara Tuhan untuk membuatku dewasa. Kekecewaan ada ketikanya mengajar kita erti kehidupan
1996, nekad meninggalkan Lembah Klang. 8 tahun
aku di sini. Belajar dan bekerja. Belajar tentang hidup dan
kehidupan. Belajar membina upaya diri.
Jangan pernah
menyesali apa yang datang dalam hidup kita. Hari-hari baik memberi kita
kebahagiaan dan hari-hari duka memberi pengalaman. Begitulah resam hidup.
Dan kini,
Tiada lagi gadis
soya,
Hilang sudah
cerita Hana, gadis kolej.
Berlalu pergi
gadis di pinggir penantian yang tak kunjung tiba,
Lenyap entah
ke mana,
Ghaib.
Yang tinggal aku dengan
seribu luka berparut di dada.
Luka yang
mendewasakan.
Luka yang
mendamaikan.
Luka yang
mematangkan.
Luka yang
menumbuhkan jiwa.
Luka yang menghidupkan.
Dan hidup ini untuk
Tuhan, teruskan berbuat baik dan biarlah kebaikan terus berjalan.
Boleh
jadi ketika kita tidur, pintu-pintu langit sedang diketuk oleh puluhan doa
kebaikan untuk kita, dari seorang fakir yang pernah kita tolong.
Atau dari orang kelaparan yang telah kita beri
makan,
Atau dari seorang sedih yang telah kita bahagiakan.
Atau dari seorang kesusahan yang telah kita lapangkan. Maka janganlah kita sekali-kali meremehkan sebuah kebaikan.
Percayalah, ketika
satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu-pintu akan lain terbuka. Cuma kerap kali
kita terlalu asyik melihat terlalu lama pada pintu yang tertutup
membuatkan kita tidak melihat pintu-pintu lain yang terbuka luas
untuk kita.
Tidak ada yang
kebetulan yang berlaku di dunia ini. Setiap pertemuan, perkenalan, kehilangan
dan pemergian pasti di atur sedemikian rupa. Tuhan tidak pernah menjadikan
takdir tanpa tujuan.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan